Temukan ulasan buku pilihan, panduan step-by-step yang mudah dipelajari, serta gagasan kritis seputar isu terkini hanya di Ketikaja.web.id

Judul: Lisanul Hal; Kisah-kisah Teladan dan Kearifan
Penulis: KH. Husein Muhammad
Penerbit: Qaf
Cetakan: Pertama, Maret 2020
Tebal / ISBN: 978-602-5547-75-1

Raja atau presiden memiliki peran yang sangat vital bagi bangsanya. Baik buruknya suatu negara kerap tercermin dari kualitas sosok yang memimpinnya. Meskipun suatu bangsa memiliki warga negara yang baik, jika kebijakan pemimpinnya teledor dan menyimpang, seluruh rakyat bisa menanggung dampak buruknya.
Menjelaskan hal ini, KH. Husein Muhammad dalam pengantarnya mengutip sebuah ungkapan dalam kitab karangan Imam Al-Ghazali: “Kebaikan rakyat adalah karena baiknya kepribadian pemimpinnya.” Baik buruknya masyarakat tidak melulu tergantung pada tingkat kesejahteraan material mereka, melainkan sangat ditentukan oleh perilaku dan kepribadian seorang pemimpin.
Berlandaskan urgensi tersebut, KH. Husein Muhammad menghadirkan buku Lisanul Hal sebagai kompas moral bagi para pemimpin—baik pemimpin rakyat dalam ranah publik, maupun pemimpin dalam ruang lingkup terkecil seperti keluarga dan diri sendiri.
Sebagaimana intisari pendidikan keluarga yang pernah diterangkan Dr. Jamal Ma’mur dalam buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam, keteladanan adalah goresan pertama pada kertas putih yang akan membekas sepanjang hayat. Judul buku ini pun diambil dari pepatah populer bahasa Arab:
“Lisanul hal afshahu min lisanil maqol”
(Bahasa perilaku atau keteladanan jauh lebih fasih dan efektif daripada bahasa lidah atau sekadar kata-kata).
Buku ini memuat 73 kisah keteladanan yang dirancang untuk merefleksikan diri pembaca. Penulis mengajak kita melintasi waktu, kembali ke masa peradaban Islam awal yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW—sosok yang diutus untuk Liutammima Makarimal Akhlak (menyempurnakan akhlak mulia).
Penulis menggambarkan suasana Arab kala itu dengan begitu hidup, seolah-olah pembaca hadir langsung menyaksikan keteladanan Sang Nabi dalam membuka untaian kisah-kisah kearifan dalam buku ini.
Selepas mengulas keteladanan Nabi Muhammad SAW, pembaca disajikan kisah-kisah para sahabat yang berhasil menyerap pendidikan akhlak Beliau hingga kepribadian mereka berubah 180^\circ dibanding masa Jahiliyah.
Salah satu bagian menarik menceritakan sosok Umar bin Khattab. Ketika menjadi khalifah, ia merasa keberatan dengan gelar tersebut dan lebih memilih disapa sebagai Amir Al-Mukminin—di mana kata Amir dimaknai sebagai orang yang diperintah atau pelayan masyarakat.
Dikisahkan pula momen ikonik saat Umar melakukan “blusukan” dan mendapati rakyatnya yang kelaparan. Tanpa ragu, Umar memikul sendiri bahan makanan, memasakkannya, hingga meniup kayu bakar dengan napasnya sendiri. Saat dikritik secara langsung oleh warga yang tidak mengenali dirinya, sang Amir sama sekali tidak marah atau memamerkan kekuasaannya. Ia memilih diam dan melayani.
Kisah berlanjut ke era Dinasti Umayyah dengan sosok Umar bin Abdul Aziz, cicit dari Umar bin Khattab. Ia mewarisi ketegasan dan kepedulian buyutnya. Umar bin Abdul Aziz melarang istrinya mengambil uang negara, bahkan menyerahkan perhiasan pribadi keluarganya ke Baitul Mal. Meski memimpin dinasti yang amat besar, ia dan keluarganya memilih hidup dalam kesederhanaan dan tak segan memecat pejabat yang menyimpang.
Satu-satunya catatan untuk buku ini terletak pada penyusunan kisahnya yang tidak memiliki sub-tema khusus atau disajikan secara acak. Pembaca dituntut untuk lebih aktif memetik intisari dan menghubungkan sendiri benang merah pesan moral antarkisah.
Meski demikian, Lisanul Hal tetap menjadi bacaan yang sangat inspiratif dan kaya kearifan. Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin belajar menjadi pemimpin yang bijaksana—baik bagi negara, organisasi, keluarga, maupun bagi dirinya sendiri.
Penasaran cerita lengkapnya? Beli bukunya yang original, dan mari berdiskusi di kolom komentar!